Warna Hati.
Publisher: Grasindo
Biru
“Karena langit tidak akan pernah kehilangan biru jika matahari masih menyinari dunia”
Satu
Tavita berlari menelusuri lorong-lorong dengan lantai putih dan tembok krem, napasnya terengah-engah, jantungnya masih saja berdegup kencang, wajahnya memerah panas, tenggorokannya kering, ia tadi menyetir seperti banteng gila saat melihat warna merah, tapi pikirannya jauh lebih gila saat ia menerima telepon dan ia harus segera kesini, ruangan ICU—Intensive Care Unit.
Tavita berdiri tepat didepan ruangan ICU—ruangan dengan dua pintu dan lampu merah bertuliskan ICU. Lampu itu menyala. Tavita masih terengah-engah, napasnya terputus-putus, ia nyaris terlalu sesak dan tidak bisa berbicara saat ia sampai di depan pintu ICU.
Tavita setengah membungkuk, mencoba sebanyak mungkin menghisap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam paru-parunya, kepalanya terasa sedikit pening, ia memiliki anemia, acara kebut-kebutan dan lari-larian tadi membuat pandangannya kabur.
Ia menaikan pandangannya yang masih kabur, ia melihat ada kursi disebelah kanan dan ada seorang yang sedang duduk disana, siapa? ah ia tidak peduli siapapun yang duduk disana, yang jelas sekarang ia merasa kelelahan.
Lalu ia berjalan pelan dengan napas—terputus-putus—mirip orang yang terkena serangan asma. Tanpa pikir panjang, Tavita duduk dan mencoba untuk menenangkan diri, menarik napas berkal-kali, menghipnotis dirinya untuk relaksasi, memfokuskan pandangannya yang kabur.
Disaat Tavita sedang mengatur napasnya dan mengembalikan fokus matanya, seseorang disampingnya baru saja mengangkat telepon.
“Halo…”
Kening Tavita langsung berkerut begitu mendengar suara laki-laki yang ada disampingnya, Tavita menolehkan pandangan—masih kabur—ia melihat sosok laki-laki tidak terlalu tinggi baru saja berdiri dengan tangan kanan menempelkan ponsel ditelinga dan tangan kirinya berada dipinggang—sedang—membelakanginya, sehingga ia hanya bisa melihat laki-laki itu dari belakang,
“Iya di ICU, iya mah, iya…”
Kening Tavita semakin berkerut, alisnya bertautan, saat suara berat dan khas itu membentur gendang telinganya, ia mengenal suara laki-laki itu. Tavita menoleh dengan cepat, laki-laki itu membelakanginya, siapa? ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
“Belum tahu mah, Naura masih ditangani oleh tim dokter”
Ah pasti hanya sekedar mirip, pikir Tavita, sementara pandangannya sedikit demi sedikit sudah mulai jelas, meski rasa sakit dikepalanya belum juga hilang.
“Udah malem mah, mama kalau mau kesini besok saja, biar saya yang urus”
Laki-laki itu berbalik.
Astaga!
Tavita menutup mulutnya, tidak mungkin!
Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi, tidak mungkin laki-laki itu. Mata Tavita terbelalak, jantungnya berdebar semakin kencang—padahal ia sedang berusaha membuat irama jantungnya kembali normal—tapi ketika melihat sosok laki-laki itu—jantung Tavita kembali berdeyut kuat, belum lagi mulutnya yang setengah terbuka.
“Ya sudah…” laki-laki itu menutup telepon, ia menaikan wajahnya dan padasaat yang sama ia melihat perempuan yang tadi ada disamping sedang menatapnya. Lalu langkah kakinya terhenti seketika, tubuhnya membeku, bibirnya kelu, napasnya terhenti ditenggorokan, dan jantungnya berdetak kuat.
Selama beberapa saat mereka hanya saling memandang, hanya saling menatap, namun pandangan keduanya kosong, mereka tidak mengatakan apapun, selain hanya saling mengamati.
Tavita beranjak dari tempat duduknya, berjalan pelan kearah laki-laki itu, berkali-kali mengedipkan matanya untuk melihat laki-laki itu dengan jelas, “La-Lando….?” tanyanya ragu dan menduga-duga.
Laki-laki itu tersentak, wajahnya pucat, sepasang alis tebal itu bertautan, benarkah itu? benarkah perempuan yang ada dihadapannya adalah perempuan dari masa lalunya?
“Ya Tuhan, Tata…?” mata Lando melebar, ia tak percaya bisa melihat Tavita kembali setelah sekian tahun perempuan itu memutuskan ia akan menikah dengan seseorang yang ia pilih.
Lalu? apa yang dilakukan perempuan itu dirumah sakit ini?
Pertanyaan yang sama dibenak Tavita, apa yang dilakukan Lando dirumah sakit ini, di depan ICU, sama dengan dirinya sekarang.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Tavita dan Lando bersamaan, terselip pula ragu di antara pikiran-pikiran yang sekejap menjelma dibenak mereka.
* * *
Cuma satu kata: Sienta adalah penulis "gila" dengan imajinasi yang tidak biasa. Kita seolah diterjunkan ke dalam dunia ciptaannya dan berperan sebagai semua karakter yang ada di dalamnya dengan semua emosi yang mampu menguras tenaga dan perasaan kita bagai roll coaster. Jungkir balik tanpa kita sadari, mempermainkan jantung dan emosi kita dengan begitu pintarnya tanpa bisa menduga hendak di bawa ke mana akhir ceritanya. Bahkan saat kita telah selesai membacanya pun.....kita masih memikirkan semua cerita tersebut. Love it!!
~Helga Rif penulis Kepingan Cinta Lalu dan Melepaskanmu.
A story about love, endurance, faithfulness.
~Prisca Primasari penulis Evergreen.
Membaca novel ini benar-benar terbawa ke dua dunia Tavita. Penuh gejolak dan teka-teki. Nikmati setiap lembarnya hingga tiba di halaman akhir dan......voila! Nikmati sendiri kejutan di setiap babnya. Suka, suka, dan suka dengan kisah yang ditulis Mbak Sienta ini.
~ Indah Hanaco, penulis Rainbow of You dan Beautiful Temptation.
Seperti biasa, novel yang ditulis oleh Sienta pasti begitu menyentuh, romantis dan banyak pesan moralnya. Kisah yang di luar dugaan, karena ditulis dalam bentuk dua cerita. Novel ini seolah memberi gambaran pada kita, pilihan manapun yang sudah kita pilih dalam hidup, tidak pernah lepas dari yang namanya ujian hidup. Jadi syukuri nikmat Tuhan yang telah kita terima. Yang pasti pengemasan dalam novel ini, sungguh lain dari yang lain.
~ Ninna Rosmina, penulis novel One More Chance.
WARNA HATI, kisah yang seru dan menggigit dari Sienta Sasika Novel. Membuatku tergoda untuk memilih antara mengintip atau menjalani selangkah demi selangkah perjalanan cintaku.
~ Kezia Evi Wiadji, penulis novel Till It's Gone dan Bouquet of Love.
Sebuah novel dari Sienta yang manis dan mengharu biru.
~Sefryana Khairil, penulis novel Sweet Nothing dan Tokyo.
Cerita yang manis tentang cinta dan kesetiaan. Sinta menuliskannya dengan menarik, meskipun bagian akhirnya menggemaskan. Bersiaplah menahan napas, lalu melepaskannya di akhir cerita...
~ Hapsari Hanggarini, penulis novel Sapporo No Niji
Satu lagi kisah mengharu-biru dari Sienta Sasika Novel. Penceritaan yang unik, Warna Hati menyentil hal mengenai cinta yang tulus seharusnya nggak memandang harta benda. Good job, Mbak.
~ Clara Canceriana, penullis You Are My Sunshine, If You Were Mine, Rain Affair
Kehidupan selalu penuh dengan suka dan duka, pahit dan manis serta kaya akan kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Kisah Tavita yang ditulis Sienta kali ini benar-benar menggugah, mengundang banyak tanya di kepala dan akhirnya tertegun, bahwa cinta sesungguhnya adalah sebuah pilihan yang sampai akhir haruslah tetap dipegang teguh.
~ Monica Anggen, Penulis Sunrise at The Sunset
* * *
