As Sweet As Blackberry.
Publisher: De teens (Diva Press)
Kenapa Harus Dia?!!
“Agggghhhhhhhhhhhhhh” teriak Sienta kesal, wajahnya tersemprot asap knalpot.
Saking kesalnya Sienta langsung melempar batu yang diambil tidak jauh dari tempatnya berada.
PLETANGGGGGGGGGGGGGGGG….!!!
“Woi turun e’lo!!!” teriak Sienta, mengangkat tangan, mengomel layaknya preman pasar!!!
BRAK…BRAK….BRAK…”Turun....turun....turun e’lo kalau berani!!!” tantang Sienta, memukul-mukul bagian belakang mobil yang sedikit penyok gara-gara batu yang Sienta leparkan tadi. Batu yang dilepar bukan batu kerikil biasa lho tapi batu kali yang diameternya cukup besar, untungnya tidak kena kaca mobil.
“Heh, monyet…apa-apaan sih e’lo ngelempar batu seenaknya!!!” ucap cowok yan baru saja turun dari mobil sedannya.
‘Busetttt ganteng banget….’ Sienta terkesan ketika melihat cowok itu turun dari mobil.
‘Eh bentar-bentar, tadi dia bilang gue apa? Monyet? Sialan!!’
“Eh, e’lo gak liat apa gue ada di belakang mobil e’lo??” oceh Sienta, menunjuk ke tempat awal dirinya berada “Nih muka gue jadi ancur gara-gara e’lo, gak tahu apa hari ini hari penting!!” kata Sienta pede, kedua tangannya berada dipinggang, bergaya sok berani, memasang muka garang, dan mengerucutkan bibirnya yang kecil dan tipis.
“Ancur? muka e’lo emang udah ancur dari sananya!!! Liat mobil gue jadi penyok kayak gini, gue minta ganti rugi!!!” kata cowok yang memiliki rambut hitam, sedikit berantakan tapi terlihat stylis banget.
“Enak aja, nyokap gue aja bilang gue cantik, gue tuh kata orang mirip sama putri titian. Enak aja minta ganti rugi, huh…nehi ya…!!! minta maaf gak sama gue?” oceh Sienta, melipat kedua tangannya di dekat dada dan memalingkan muka dari cowok ganteng yang ada dihadapannya.
“Putri Titian? Huahahahahahaha mirip apanya?” Bintang tertawa terbahak-bahak, tertawa hingga air matanya hampir menetes.
“Terserah e’lo mau ngomong apa, yang penting sekarang e’lo minta maaf sama gue”
“Maaf?” cowok itu memalingkan muka “cih…gue minta maaf sama cewek aneh kayak e’lo? dandanan udah kayak rocker…rocker gak jelas...” ucap kesal cowok itu sambil memandang Sienta dari atas sampai bawah.
“Dasar norak banget sih e’lo, ini tuh gaya harajuku jepang tahu!!! enak aja bilang gue kayak rocker!!! Dasar deso…” oceh Sienta yang masih kesal melihat lagak cowok yang ada dihadapannya, cakep sih tapi menurut Sienta cowok cakep tapi tengil kayak dia meningan dilempar ke laut ‘Siapa sih nih orang, sok banget jadi cowok!!!’ keluh Sienta dalam hati.
“Apa e’lo liat-liat? Suka sama gue?” kata Sienta yang melihat cowok itu terus menerus memandang dirinya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“huahahahahahaha suka? Amit…amit…jangan ge-er e’lo!!! Gue tuh liat e’lo aneh bukannya suka!!!” cowok itu tertawa puas melihat Sienta yang penuh percaya diri.
“E’lo tuh ya......” Sienta mulai panas dan langsung menonjok wajah cowok menyebalkan yang sedang ada dihadapannya.
BUGHHHHHHHHHHHHHHH!!!
‘Emang enak? Berani sama gue, nih akibatnya…’
“Sienta….” teriak mama dan papanya setelah melihat Sienta menonjok pipi orang.
“Tenang mah…pah, gak usah khawatir…Sienta baru nonjok cowok yang gangguin Sienta” ucap bangga Sienta, menunjukkan kepalan tangannya kepada kedua orang tuanya
“Sienta itu anak tante Vega dan Om Rudi” ucap mama kesal.
JREEEENNNNNGGGGGGGGG
“Apa?” wajah Sienta terlihat bingung “Jangan bilang dia tetangga baru kita” tanya Sienta, menunjuk ke arah cowok yang baru saja di pukul olehnya.
“Dia emang tetangga baru kita sayang, namanya Bintang, kamu gimana sih main tonjok orang seenaknya aja!!!”
THET THOT
”Apa? jadi dia…” tunjuk Sienta kepada Bintang “…anak…om sama tante?” kata Sienta, melihat kepada kedua orang tua Bintang yang sama shocknya mengetahui anak semata wayangnya dipukul oleh Sienta.
‘Aduhhhh mati gue, jadi dia anaknya….’
‘Jadi…cowok rese ini dong tetangga gue? ahhhh hancur sudah harapan gue!!!’
‘Ganteng sih tapi rese banget, kayak nenek-nenek!!!’ keluh Sienta, melihat sinis kepada Bintang.
“Sienta minta maaf sama om Rudi dan tante Vega juga sama Bintang” perintah sang papa yang memasang wajah Gerang.
“Ah Pak, gak apa-apa kok, biasa anak muda cara kenalannya beda sama kita” kata bapaknya Bintang yang memiliki nama lengkap Rudi Ramli.
“Sienta ayo cepet minta maaf” bisik mama, tersenyum malu
“Om...tante....Sienta minta maaf ya” ucap malu-malu Sienta
“Ya gak apa-apa, meningan kita masuk aja yuk” ajak ibunya Bintang “Pak, tolong angkatin ya semua barang-barang” perintahnya kepada supir dan para tenaga yang mebantu pindahan.
“Iya bu…”
Kedua keluarga itupun langsung masuk ke dalam rumah, berbincang-bincang sambil membicarakan arsitektur rumah ini yang akan dirubah. Sienta tetap memandang dingin ketika dirinya disuruh mengobati memar Bintang.
“Sienta, tante minta tolong ya, ini salep untuk Bintang, tolong diolesin ya”
“Iya tante” Sienta tersenyum, senyum terpaksa ‘kenapa sih harus gue? lagian si Bintang-Bintang kecil itu bisa ngolesin sendiri, kenapa coba nyuruh gue??!!’ keluh Sienta berjalan mendekati Bintang.
“Apa e’lo lihat-lihat?” tanya Bintang ketika melihat Sienta memandang sinis dirinya.
“Nih salep dari nyokap e’lo…” Sienta melepar salep itu tepat ke wajah Bintang.
“Aduh…sopan dikit kenapa sih e’lo!!” kata Bintang.
“Sopan sama cowok kayak e’lo? Malessss deh!!!” kata Sienta, mengerlingkan bola matanya “udah ya gue mau pulang” Sienta membalikan badannya untuk segera kembali ke kamar tidurnya, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Eh mau kemana?”
“Eitsss ngapain e’lo pegang-pegang tangan gue?” kata Sienta, langsung me-lap bekas tangan Bintang.
“Idihhh ge-er, nih olesen dulu memar gue” perintah Bintang.
“Wee enak aja, mooh!! Olesan aja sendiri” tolak Sienta menjulurkan lidah serta menyipitkan matanya.
“…susah neng, gue gak bisa lihat nih!! entar gak ke olesin semua…” ucap Bintang, mengasongkan salep “mau gak? kalau gak mau gue laporin sama bonyok e’lo, pasti entar e’lo diomelin gara-gara gak mau tanggung jawab”
‘Apaan sih nih cowok, reseeeeeeeeee awas ya gue pencet-pencet tuh memar’ kata Sienta kesal “Sini…” tangan Sienta mengambil salep dari tangan Bintang dengan kasar.
“Santai bu” seru Bintang yang melihat wajah jutek Sienta “Woi jangan cemberut mulu, cepet tua, lihat tuh masih kecil udah banyak keriput” ejek Bintang.
‘Bawel banget sih…nih biar rasa!!!’
“Awwwwwwww” Bintang meringis “Gila e’lo ya, sakit tahu, maen pinjit sembarangan. E’lo kira remote TV apa?” keluh Bintang yang wajahnya tiba-tiba berubah masam ketika memar dipipinya ditekan.
“…makannya jangan banyak ngomong deh e’lo…bawel banget, heran gue, ada ya cowok bawel kayak e’lo di dunia ini?” oceh Sienta, mengoleskan luka di pipi Bintang.
Mereka duduk di sofa putih di depan TV, ruang keluarga. Sementara itu, kedua orang tua Sienta dan Bintang sedang asik mengobrol diruang tamu sambil mengawasi barang-barang bawaan mereka.
“Nih udah…”
“Oh ya, ngomong-ngomong mobil gue gimana?” tanya Bintang yang tiba-tiba saja teringat akan mobil sedan hitamnya yang penyok gara-gara Sienta melempar batu.
“Gimana apanya?” pura-pura tidak tahu ‘aduhhh…dia inget sama mobilnya’
“Mobil gue, penyok noh gara-gara e’lo, gue minta ganti rugi?”
“Nih minta ganti rugi!!” kata Sienta, menunjukkan kepalan tangannya “Mau pipi e’lo gue tonjok lagi?” seru Sienta kasar!!!
“Buset, e’lo yang salah kok e’lo yang marah sih? pokoknya gue gak mau tahu, gue minta ganti rugi!!!” Bintang beranjak dari tempat duduk, berdiri dihadapan Sienta.
“Eh ngapain deket-deket?” tanya Sienta, melotot melihat Bintang begitu dekat dengannya.
“Idih, jangan ge-er e’lo, gue cuma minta ganti rugi doang” menatap Sienta “Ayo ganti!!”
“Ihhhh kok e’lo matre banget sih jadi cowok. Dasar cowok matre, galak, aneh, jelek, kayaknya semua yang buruk ada di e’lo deh” ejek Sienta yang mulai menjauh dari Bintang “Udah ah gue mau balik dulu” Sienta berlari cepat meninggalkan Bintang.
“Woi, kabur e’lo” teriak Bintang.
“Bintang, kenapa sih teriak-teriak?” tanya ibunya.
“Enggak kok mah, itu ngusir kucing, tadi ngambil bala-bala!!” kelak Bintang kesal.
Sienta berlari kembali ke dalam rumahnya, mengerutu sepanjang jalan ‘dasar cowok aneh, jelek, galak. Hancur sudah harapan gue buat punya tetangga keren kayak hyde atau L!! Eughhhh kenapa sih mesti dia yang jadi tetangga gue? percuma gue dandan cantik kayak gini kalau ternyata gue harus ketemu sama cowok rese kayak si Bintang itu, nama aja Bintang, kayak cewek banget sih, sekalian aja pake nama Bulan dan Bintang’
“Aghhhhhhh gimana nih, padahal gue pengen bilang sama si Rere kalau gue punya tetangga cowok cuco, keren abis!!” mengaruk-garuk kepala “Aghhh hancur sudah harapan gue!!! bukannya ketemu sama cowok keren tapi malah ketemu sama cowok rese!!!” bisik Sienta yang berlari menaiki tangga.
“Udah ketemu sama temen barunya?” tanya Rama ketika keluar kamar.
“Udah!!!” jawab Sienta kesal.
“Gimana ganteng gak?”
“Jelek!!!”
“Kenapa sih marah-marah mulu??”
“Tahu!!!”
“Idih jangan marah kayak gitu neng, makannya jangan terlalu ngekhayal bisa ketemu cowok cakep kayak idola kamu itu, siapa namanya? Hide ya kalau gak salah”
“Hyde, dibaca Hydo” koreksi Sienta.
“Iya itu”
“Udah ah, kakak jangan bikin rungsing deh!!! Sienta tuh lagi bete, coba bayangin aku udah dandan cantik-cantik kayak gini, tiba-tiba tuh orang ngejalanin mobil asepnya kena muka Sienta dong kak, gimana gak kesel coba!!!”
“Iya udah, jangan manyun kayak gitu mulu dong!! jelek tuh!! Oh ya, buah blackberry udah kamu petikin belum?”
“Belumlah kak, belum sempet!!! Kakak petikin dong Sienta lagi bete nih, udah ah mau tidur lagi” Sienta memalingkan wajah dari kakaknya, membanting pintu kamar.
BRAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK
“Ya ampun” seru Rama, menggeleng-geleng kepala “Ehmmm keluar deh sifat aslinya” seru kakaknya yang mendengar suara pintu dibanting.
‘Huuuuuuuuhhhhhh, sebel!! Lihat aja ya tuh orang!!!’ kata Sienta, melempar kaos kaki hitamnya ke atas tempat tidur.
“Dia cowok paling reseeeeeeee!!!” Sienta mengepal tangannya, berjalan bolak balik seperti setrikaan.
“Kenapa sih mesti dia yang jadi tetangga gue?
“KENAPAAAAAAAAAAAAAAAAAA?????” teriak Sienta berang!!
* * *
