Be Mine.
Publisher: Media Pressindo
Chapter #01
Rabu, 22 Januari 2014
“Ngantuk” bisik Sienta sembari menguap berkali-kali, matanya sudah 5 watt, nyaris tertidur di meja belajar, pelajaran materi genetik ini hampir saja membunuhnya perlahan-lahan, ia tidak bisa mengingat istilah-istilah yang ada di pelajaran itu.
“Bobo bentar ah, enggak apa-apa kali ya” ujarnya pelan, “Lagiankan gordennya aku tutup,” Nyengir kuda, “Jadi dia enggak bakalan tahu aku tidur atau belajar” ujar Sienta tersenyum pecicilan.
“Tutup buku ah, mari bobo…” ujar Sienta semangat, lalu terdengar bunyi ponselnya.
You and I go hard, at each other like we going to war
You and I go rough, we keep throwing things and slammin' the door
You and I get so, damn dysfunctional we stopped keeping score
You and I get sick, yah I know that we can't do this no more
“Ash! Siapa sih?” mengambil ponsel didalam laci meja belajarnya, melihat nama si penelon, lalu menepuk jidat, “hadeuuh” keluhnya pelan sembari menarik napas, lalu menggeser ikon berwarna hijau dilayar touch-nya.
But baby there you again, there you again making me love you
Yeah I stopped using my head, using my head let it all go
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo
And now i'm feeling stupid, feeling stupid crawling back to you
Sienta : Halo
Bintang : Jangan tidur!!
Idih, kok dia tahu, aku pengen tidur sih, bisik Sienta dalam hati.
Sienta : Ye, siapa pula yang mau tidur, gue lagi belajar tahu.
Bintang : Bagus, awas aja kalau jam segini e'lo tidur!
Sienta : Iya…iya…bawel banget sih! atau e’lo suka ya sama gue?
Bintang : Jangan geer, ibu yang minta gue buat ngawasin e’lo belajar!
Sienta : Hu’uh iya ya!
Dasar manusia es! bisik Sienta sekali lagi
Bintang : Itu, gorden jendela e’lo, kenapa ditutup?
Sienta : Enggak apa-apa, emangnya enggak boleh?
Bintang : Enggak! buka sekarang, kalau e’lo tutup, pasti mau tidur!
Dasar, tahu aja lagi!
Sienta : Iya, gue buka nih!
Sienta langsung membuka gorden yang tepat berada di depan meja belajarnya, ia bisa melihat Bintang dengan jelas.
Bintang : Good! udah belajar sampai mana?
Sienta : Baru juga belajar diawal-awal
Bintang : Apa? Senin ujian e’lo masih disitu, astaga…
Sienta : Ya elah biasa aja kali! Ekspresinya alay banget.
Sienta melihat ekspresi wajah Bintang yang sedang menepuk keningnya!
Bintang : Besok pulang sekolah, gue ke rumah!
Sienta : Serius mau bantuin gue belajar lagi?
Bintang : Iya
Sienta : E’lo pasti sayang sama gue…
THHHUUUUUTTTTT
Sienta : …kan?
“Yee, ditutup!” lalu memandang Bintang dari balik jendela, cowok itu sedang asik membaca majalah teknologi, “Ih kok bisa sih dia nilainya bagus tapi enggak pernah kelihatan belajarnya!” meruncingkan bibir, “Dunia ini enggak adil”
Sienta terus mengomel sembari membuka kembali buku biologi kelas tiga, bab materi genetik, halaman satu, mengambil stabilo dan menandai hal-hal yang ia rasa penting.
“Kodon itu mRNA, antikodon itu tRNA” bisik Sienta, ia sedang menghapalkan materi genetik, “Oh oke, antikodon itu mRNA, eh salah…salah…” menundukkan kepala, melirikan matanya, mengingat-ingat, memejamkan mata, “Ehm kodon itu mRNA dan antikodon itu tRNA”
“Arrgggg!!” menggeleng-gelengkan kepala, “Kenapa susah banget inget sih” menggaruk-garuk rambut panjangnya yang diikat ekor kuda.
Menghembuskan napas, lalu tubuhnya melorot, bersandar ke kursi sembari menatap ke langit-langit, bagaimana bisa ia belajar sekeras ini? bagaimana bisa ia dengan bodohnya mengatakan hal tolol yang tidak mungkin bisa ia lakukan? Sungguh ia memang bodoh dan tidak mengukur kemampuannya yang jongkok di bidang pelajaran.
“Bego…bego…bego…” ujarnya pelan sembari mengetuj-ngetukan pensil ke keningnya sendiri, “Kenapa sih waktu itu gue tuh kalau ngomong asal nyeplos aja, hadeuh….” ujarnya menyesali, “Nyeeessseeeelllll….”
* * *
