top of page

Ready To Love Again.

Publisher: Media Pressindo

 

 

 

Petunjuk Molly dan Nolly

 

 

 

‘Mah, pah, kangen banget sama kalian’ seru Sienta di dalam hati, mengangkat kepalanya, indah, daun-daun itu menari oleh alunan angin, kering, berjatuhan.

 

Suara yang gemersik, daun yang bertumbukan, membuat suasana sore hari ini terasa indah, walaupun, sebenarnya suasana hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, namun, sepertinya Sienta baru menyadari kalau suasana sore dikampusnya itu sangat indah.

 

Terkadang langkahnya terhenti untuk menikmati sepi dan sejuknya udara yang dia hirup. Matanya seringkali terpenjam saat angin berhembus.

 

Sela-sela pepohonan, terlihat lebih indah, karena sinar matahari yang menembus kanopi pepohonan. Selangkah demi selangkah, Sienta menelusuri jalan kampus yang sudah sepi, tidak ada suara berisik kendaraan bermotor satupun. Benar-benar sore hari yang sepi. 

 

Namun tiba-tiba saja, suara gonggongan anjing memecahkan suasana sepi. Suara itu membuat Sienta menjadi lupa akan segala yang yang dipikirkan, ‘Itu suara Molly dan Nolly’ ucap Sienta dalam hati, berjalan menyelusuri arah suara anjing berasal.

 

“Aneh, Molly dan Nolly nggak pernah nge-gong-gong kayak gini”.

 

Molly dan Nolly kampung adalah anjing yang sudah Sienta rawat sejak kecil. Kedua anjing ini diketemukannya beberapa tahun yang lalu, ketika ibu Molly dan Nolly mati tertabrak mobil yang tidak bertanggung jawab. Saat Sienta menemukan Molly dan Nolly mereka masih kecil-kecil, dan masih butuh kasih sayang ibunya. 

 

Sienta ingin sekali membawa mereka berdua pulang. Namun, nenek Sienta melarang kedua anak anjing itu dibawa ke rumah, oleh karena itu Sienta membuatkan kandang Molly dan Nolly di hutan buatan yang berada di area kampus, tidak jauh dari gedung kuliahnya.

 

Setiap hari Sienta membawa makanan dan susu untuk mereka berdua. Mereka sekarang sudah mulai tumbuh menjadi hewan yang mandiri. Sienta sangat menyayangi kedua anjing ini, saat Sienta sedih, dia selalu duduk di tepi danau, bersama Molly dan Nolly. Mereka sering bermain bersama, bahkan berenang di danau itu, namun sudah satu bulan Sienta tidak melakukan kebiasaannya itu. 

 

Kesibukan kuliah membuat Sienta tidak bisa berlama-lama di danau. Sienta hanya sempat memberi makanan dan susu kepada Molly dan Nolly, mengucapkan selamat pagi dan mengelus kepala Molly dan Nolly.

 

Sienta berjalan cepat, “Kenapa ada mobil disini?” seru Sienta yang berhenti sesaat, menatap mobil yang rasanya pernah dia jumpai.

 

“Mobil ini, bukannya mobil.....”

 

Saat Sienta tengah memperhatikan mobil hitam itu, suara Molly dan Nolly semakin kuat. Suara itu membuat Sienta terperanjak dan meneruskan perjalanannya.

 

“Jangan-jangan....” Sienta berlari.

 

“Gog....gggoooog......”

 

“Molly....Nolly....” panggil Sienta.

 

Molly dan Nolly berlari kearah Sienta, sambil terus menggong-gong, seolah ingin memberitahu Sienta, apa yang sedang terjadi sebenarnya,

 

“Ada apa?” tanya Sienta kepada Molly dan Nolly, seolah bertanya kepada manusia, meskipun sejujurnya entah mereka mengerti atau tidak apa yang Sienta ucapkan, tapi, bagi Sienta diantara mereka punya kontak batin.

 

“Gog...gog gog gog” Molly dan Nolly menggong-gong, mengarahkan perhatian Sienta kearah seseorang yang sedang berdiri di atas bangunan di tepi danau.

 

“Bintang” bisik Sienta, berlari menghampiri Bintang.

 

‘Dia kenapa? Dasar gila’ seru Sienta dalam hati.

 

“BINTANGGGGGGGGGGGGG......” teriak Sienta.

 

“Gog....gggoooog......”

 

Bintang hanya menoleh, pandangannya kosong, hampa, wajahnya sedih, tidak ada keceriaan sedikitpun dimatanya. Saat Sienta melangkah maju, tiba-tiba saja Bintang menjatuhkan dirinya sambil menutup mata.

 

BYUUUUUUURRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!

 

“Gog....goooog......”

 

“BINTANGGGGGGGGG..........” teriak Sienta yang dengan sigap langsung membuka sepatu dan jaket yang digunakannya.

 

“Gila, kalau mau bunuh diri jangan disini” seru Sienta pelan dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam yang airnya sangat dingin.

 

“Gog...gog gog gog”

 

“Gog...gog gog gog”

 

Dengan sekuat tenaga, Sienta berenang mencoba menyelamatkan Bintang yang sudah tenggelam. Molly dan Nolly pun ikut berenang membantu Sienta menyelamatkan Bintang. Sienta mulai berenang cepat, mencoba menyelamatkan Bintang yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Sienta menggapai tubuh Bintang, dengan sekuat tenaga, lalu Sienta membawa Bintang ke permukaan, berharap masih ada tersisa napas yang dapat menyelamatkan Bintang.

 

‘Kenapa dia? Kenapa dia mencoba bunuh diri? Dasar gila!!!’ keluh Sienta, ‘Mau bunuh diri ya, jangan disini’ ucap Sienta dalam hati.

 

Molly dan Nolly membantu Sienta menarik tubuh Bintang ke tepian.

 

“Bintang....bangunnnn.....haduh, jangan bikin masalah dong” seru Sienta, mengatur napasnya, beberapa detik kemudian, Sienta langsung menekan dada Bintang, mencoba menyelamatkan Bintang, namun Bintang masih belum sadar juga.

 

“Gog...gog gog gog”

 

“Haduh, bangun dong, bangunnnnnn!!!” ucap Sienta sambil terus menekan-nekan dada Bintang.

 

“Gog...gog gog gog.....gog...gog gog gog”

 

Dengan terpaksa, Sienta memberi napas buatan kepada Bintang, berharap Bintang akan tersadar dari pingsannnya. Memberi napas buatan, bergantian menekan dada Bintang agar segera tersadar.

 

“Hukkkk...hukkkkk”

 

‘Ah.....akhirnya, sadarnya juga nih anak’ seru Sienta, menghela napasnya, lega rasanya akhirnya Bintang tersadar.

 

“Hukkkk...hukkkkk”

 

“E’lo, tuh ya, gila apa ya? Mau bunuh diri? Udah bosen hidup?” ucap Sienta kasar, memukul paha Bintang.

 

“Hukkkk...hukkkkk”

 

“Sekarang gue balik, mendingan e’lo balik, udah mau magrib, lihat tuh matahari udah mau tenggelam” ucap Sienta, mencoba berdiri, “Dasar gila” keluh Sienta yang masih kesal, namun Bintang segera menarik tangan Sienta.

 

“Apa lagi?” tanya Sienta menatap.

 

Bintang tidak menjawab apapun, memandang Sienta penuh makna. Sienta memandang Bintang yang menggigil kedinginan, sama seperti dirinya.

 

‘Sial, hari ini hari paling sial buat gue’

 

Hari ini memang hari sial bagi Sienta, gagal pulang bareng Rizal, pulang malah nemuin Bintang mau bunuh diri.

 

“Kenapa? Lihatin gue, kok, kayak gitu banget!! Udah balik sana!!” ucap Sienta, menatap Bintang, tapi, Bintang tidak melepaskan tangan Sienta.

 

“Gog...gog gog gog.....gog...gog gog gog”

 

“Thanks” ucap Bintang.

 

“Ya, sama-sama” jawab Sienta tanpa melihat Bintang, “E’lo tuh kenapa? Mau bunuh diri segala?” ucap Sienta menatap Bintang.

 

“Ehm, cape deh, malah diem” mengerlingkan mata, “Woi, jawab”

 

Bintang tak berkata sedikitpun, matanya masih menatap Sienta. Entah apa yang dipikirkan Bintang dengan tatapannya itu.

 

“Kenapa sih? Ngerasa bersalah?” tanya Sienta, “Hei, gue nggak suka, e’lo ngeliat gue kayak gitu, gue....” perkataan Sienta tiba-tiba terhenti saat Bintang memeluk Sienta, tanpa berkata sedikitpun.

 

“Gue...” ucap Sienta yang sesaat terdiam, lalu tesadar, “Apa-apaan sih?” mencoba melepaskan diri dari pelukan Bintang.

 

“Gog...gog gog gog.....gog...gog gog gog”

 

“Thanks” ucap Bintang singkat.

 

“Iyeee, sama-sama, tapi plisss ya, habis napas gue dipeluk sama e’lo!!” oceh Sienta kesal.

 

“Bisa anter gue pulang? E’lo bisa bawa mobil?” tanya Bintang, giginya saling bertemu dan menghasilkan suara ngilu.

 

“E’lo, kedinginan?” kata Sienta mengambil jaket yang tadi dilepaskan olehnya, jaket hitam tebal yang diberikan oleh neneknya satu tahun yang lalu, “Nih pake jaket gue” Sienta memberikan jaketnya, menatap Bintang yang mengigil memeluk dirinya sendiri.

 

“Gog...gog gog gog.....gog...gog gog gog”

 

“Gog...gog gog gog.....gog...gog gog gog”

 

“Thanks” Bintang menatap Sienta, memandangnya dalam-dalam.

 

“Kenapa lihat-lihat? Ada yang aneh?” Sienta bertanya heran melihat pandangan Bintang “Udah yu gue anterin, entar e’lo keburu pingsan lagi” Sienta membantu Bintang berdiri, berjalan menyusuri danau, berbalik arah menuju mobil Bintang.

 

Untung saja Molly dan Nolly memberi isyarat kepada Sienta, kalau tidak? Mungkin sekarang Bintang tidak bisa diselamatkan. 

 

Entahlah apa yang dipikirkan oleh Bintang, berniat mengakhiri hidupnya dengan menengelamkan diri ke danau. Sienta merasa dibalik sosok Bintang yang kejam, berubah menjadi seorang yang memiliki jiwa rapuh dan tidak berdaya. Begitulah hipotesis sementara yang bisa diungkapkan oleh Sienta, ketika melihat Bintang duduk disampingnya.

 

Selama diperjalanan Bintang tidak mengatakan apapun, kecuali menunjukkan arah jalan menuju rumahnya, Sienta pun tidak mengatakan apapun, ingin bertanya, tapi takut menyinggung perasaannya.

 

Sienta melihat Bintang tertegun melamun, melihat jauh keluar jendela, pandangannya kosong, apa yang sedang dipikirkan olehnya?

 

‘Dia mikirin apa ya?’ sesekali menoleh kearah Bintang, ‘Dia punya masalah gede kayaknya!!’

 

“Udah sampe nih” Sienta memberikan kunci mobil kepada Bintang, “Gue balik dulu” 

 

“Jangan” Sienta memandang heran, “Masuk dulu, sebentar. Gue ganti baju, entar gue anter baliknya”

 

“Gak usah” Sienta berusaha melepaskan tangan Bintang, “Gue balik sendiri juga nggak apa-apa, kok, Bin, lepasin dong!” Sienta masih berusaha melepaskan tangan Bintang dari tangan kirinya.

 

“Gue nggak akan lepasin, kalau e’lo nggak mau gue anterin” memandang tajam.

 

“Iya...iya....” Sienta mengangguk malas, “Oke”

 

Sienta berjalan memasuki rumah Bintang yang besar, mewah, dan bergaya Eropa. Ini rumah termegah pertama yang Sienta kunjungi, rasanya dulu hanya rumah Ria lah yang paling megah, tapi ternyata Bintang memiliki rumah megah dan mewah seperti ini.

 

“Wahhhhh” seru Sienta ketika melangkahkan kakinya untuk pertama kali, “Keren banget!!” Sienta merasa takjub, apalagi ketika melihat hiasan guci yang tingginya melebihi tinggi dirinya, “E’lo, tinggal sama siapa disini?” tanya Sienta tanpa sedikitpun melihat wajah Bintang.

 

“Sama bokap, nyokap gue udah meninggal” kata Bintang dingin.

 

“Sorry, gue nggak maksud....” Sienta langsung memandang Bintang, ‘Dia emang cakep banget ya, nggak salah kalau banyak cewek suka sama dia’ seru Sienta, ‘Duh, gue ngomong apa sih? Malah merhatiin tampang dia segala!!’

 

“Gak apa-apa, santai aja” Bintang berjalan menuju tangga yang dilapisi karpet merah, “E’lo, duduk aja disini dulu, gue mau ganti baju”

 

“Iya” Sienta langsung duduk disofa empuk berwarna merah marun dengan ukiran khas Jepara, “Tumben tuh anak baik banget” ucap Sienta spontan, melihat punggung Bintang yang semakin menjauh dari pandangannya.

 

Di meja dekat kursi terdapat foto seorang bapak dengan anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun yang membawa bola basket, “Ini pasti Bintang sama bokapnya”

 

Sienta terus memandang foto itu, “Dari kecil Bintang udah cakep banget ya, coba aja sikapnya nggak kayak gitu, kayaknya gue juga udah suka sama dia”

 

Sienta kembali memandangi sekelilingnya, berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dilihat, “Mbak, ini minumnya....”

 

“Oh, makasih” Sienta sepertinya heran tiba-tiba pembantunya Bintang muncul.

 

“Saya tinggal ke belakang dulu ya mbak.” ucap pembantunya dengan nada yang ramah, pembantu di rumah ini mengenakan seragam berwarna hitam putih, memakai topi berenda-renda sama seperti rok yang dikenakannya.

 

“Iya, makasih ya” Sienta tersenyum ramah.

 

“Sama-sama” pembantu itu tersenyum.

 

Sienta kembali memperhatikan sekelilingnya mencari frame foto yang bisa dilihatnya, tepat di belakang Sienta duduk, terdapat dinding yang dipenuhi oleh frame foto dari ukuran paling besar dan ukuran paling kecil. 

 

Dinding itu berada dekat tangga berkarpet merah, ‘Ya ampun fotonya banyak banget...’ seru Sienta yang berjalan mendekati dinding-dinding itu.

 

“Ih, Bintang lucu, dari mulai pakai seragam TK sampai SMA fotonya ada. Ini Bintang lagi bayi, lucu, gendut banget..” Sienta terus berkomentar ketika melihat foto-foto Bintang, Bintang waktu masih bayi, balita, TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah juga ada.

 

“Maaf anda siapa?” tanya seseorang yang tiba-tiba mincul dari pintu depan.

 

“Ee...saya....” Sienta terpana melihat sosok berbaju rapi, memakai kemeja krem, dasi coklat tua, kemeja dan celana coklat senada dengan dasi yang dikenakan, ‘Siapa ya dia? Dia pasti bapaknya Bintang deh’ Sienta tersenyum lalu melanjutkan ucapanya, “Saya tem....”

 

“Dia pacar Bintang yah...”

 

* * *

Call

T: +6586511529

 

Contact

Email: cibe.cibi@gmail.com

WA: +6586511529

  • Instagram App Icon
  • Facebook App Icon
  • Twitter App Icon

Follow me

 

Personal website by Sienta Sasika Novel.

 

It is forbidden the use the pictures for commercial reasons.

bottom of page