Never Gonna Leave You.
Publisher: Elexmedia
Chapter #03
Sabtu, 4 Januari 2014
When marimba rhythms start to play
Dance with me, make me sway
Like a lazy ocean hugs the shore
Hold me close, sway me more
Lagu Sway-Michael Buble yang di cover ulang oleh Carrisa Rae dan Michael Alvarado (US)—artis you tube—terdengar begitu lembut di telinga Sienta. Sejak pertama kali mendengar suara pasangan beda ras ini, Sienta langsung jatuh cinta, dan ia sengaja mendownload lagu-lagu cover dan lagu-lagu ciptaan mereka. Dan semua, menurut Sienta—awesome.
“Like a flower bending in the breeze, bend with me, sway with ease, na…na…na…” Sienta terbawa alunan lagu Sway, sambil menyanyi, ia menyeka rambutnya dengan handuk, memandang wajahnya dicermin.
“Aaarrrggggg…..” mengacak-ngacak rambutnya, teringat kembali kata-kata yang sering terlontar dari mulutnya Hanny, “Ya terus, kenapa sampe sekarang kamu belum punya cowok?”
“Sebel….” manyun.
“Sebel…sebel…sebbbeeeelllllll”
Memicingkan mata, menatap dirinya sendiri dicermin, terlihat pucat dan lemas, sepentingkah ‘status pacaran’?
“Kenapa sih aku enggak bisa kayak cewek lain?—“ bibirnya mengkerucut, “—kan pengin ngedate, pengin foto-foto, ke pengin gitu kayak orang lain” kedua alisnya bertautan.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, “Gimana dong? enggak mungkin kan aku—“ diam sesaaat, mengerlingkan mata keatas, memandang ke langit-langit, “Aaarrggghhhhh bete….bete….bete….” melempar handuk ke atas ranjang.
I've been everywhere, man
Looking for someone
Someone who can please me
Love me all night long
Dering ponsel Sienta menjerit-jerit keras diatas meja belajar membuat mood buruknya semakin menjadi-jadi.
“Arg siapa sih malem-malem gini nelepon” melihat nama Hanny dberkedip-kedip di ponselnya.
Sienta : Haloooo
Hanny : Hai Miss jomblo
Sienta : Sialan!
Hanny : Lagi apa?
Sienta : Termenung!
Hanny : Malem minggu nih neng, main kali keluar, mendem aja dalem kamar.
Sial nih anak, berguman dalam hati.
Sienta : Elo lagi dimana nih? berisik amat!
Hanny : Lagi di PVJ beb sama—
Sienta : Sama ayang Devan
Sienta menirukan suara Hanny saat ia bertemu dengan kekasihnya, mereka bertemu satu minggu sekali, Hanny dan Devan berbeda sekolah, mereka bertemu diacara pensi 1 tahun yang lalu disaat Hanny baru putus, ia bertemu Devan dan satu bulan kemudian mereka jadian. Satu komentar Sienta—beruntung banget sih tuh anak.
Hanny : Tahu aja. Lagian elo sih kalau gue ajak keluar enggak pernah mau sih!
Sienta : Ah ogah, masa nanti gue cuma jadi kamco disana! males!
Hanny : Hah kamco?
Sienta : Kambing conge! Cuma dengerin kalian mesra-mesraan, bikin gue enek!
Hanny : Hahaha, dasar! Makannya cari cowok. Waktu itu gue kenalin sama Wendy, eh elo-nya enggak mau, padahal tuh anak udah suka deh sama elo.
Sienta : Enggak cocok!
Hanny : Ah elo sih emang penginnya sama Ryo doang, plis deh say, cari cowok lain deh, kalah saing elo sama Nuri!
Sienta : Iya gue tahu! Elo ratusan kali ngomong itu, plis deh!
Berjalan ke tempat tidurnya, membaringkan tubuhnya diatas kasur yang terasa dingin dan lembut—ia menyukai seprai yang dingin seperti ini.
Hanny : Emang! dan gue udah bosen ngomong ini sama kamu. Mulut sampe berbusa tapi enggak ada hasilnya, zzzz…!! eh jangan-jangan elo lagi ngobrol sama si Maha…Maha itu ya?
Sienta : Enggak kok! sotoy elo
Hanny : Abis, elo mah aneh-aneh aja sih, hari gini masih aja ngeladenin cowok khalayan macam si Maha itu yang beraninya Cuma chat or nelepon, disuruh ketemuan enggak mau. Ah apaan tuh cowok basi enggak maco banget!
Sienta : Udah deh Han, ini elo neleponin gue mau ngapain neng? bukan mau nyeramahin aku ala bapak-bapak ustad kan?
Hanny : Haha, dasar, bosen ya denger ocehan gue?
Sienta : Iye bosen! Udah apaan sih?
Hanny : Ini gue tadi ke toko buku, gue lihat novel Warna Hati yang elo pengin itu, mau gue beliin enggak?
Sienta : Wah serius? mau, mau banget! Tahu aja elo kalau gue kepengin novel itu banget tapi belum sepempet ke toko buku.
Hanny : Eeeiittssss gue gitu lho, sahabat terbaik sedunia!
Sienta : Makasih sayang, muach….muach…gratis enggak nih?
Hanny : Iyeee gue bayarin neng.
Sienta : Yeeeee…..ma’acih sayang….
Hanny : Oke deh honey, udah dulu ya, gue mau makan sama Devan nih
Sienta : Have fun ya darling!
Hanny : Thanks dear…
TTTTHHHHHHUUUUUUUUTTTTTTTT
Sienta menatap lama ke layar ponsel, lalu berkomentar dengan suara pelan, “Enak banget jadi Hanny, bisa pacaran kayak gitu, ngiri gue” bibirnya mengkerucut, menaruh ponselnya di dekat bantal.
“Kapan ya gue bisa pacaran kayak Hanny sama Devan?” bertanya kepada dirinya sendiri.
Sienta hanya bisa menghela napas, mengkerucutkan bibirnya yang tipis, dan mengacak-ngacak rambutnya.
“Suuummpppaaahhhh bête…bête….kenapa sih mesti bete banget kayak gini—“ ujarnya lesu, “kapan bisa ngedate? kapan bisa dinner? kapan aku bisa pegangan tangan terus dilihatin orang-orang? dan bikin cewek-cewek ngiri karena aku punya cowok!” memandang miniatur menara Eiffel yang berada di meja belajarnya, menara yang besar dan tinggi, hadiah dari seseorang untuknya, oleh-oleh dari Paris Prancis.
“Ah bête” menghela napasnya sekali lagi.
“Ya udahlah. Nasib….stuck on you!” ujar Sienta kesal sambil mengambil remote TV di meja kecil dekat tempat tidurnya, lalu memencet tombol on.
Sudah berapa hari ia tidak menonton televisi, “Ehm kayaknya dua hari aku enggak nonton TV, eh dua apa tiga hari ya?” kedua bola matanya, “Ah bodo amat lah ya”
“Sejak foto mereka tersebar di internet, Ghesa Ayunda dan Bintang Mahendra semakin dekat dan dikabarkan, keduanya bermain di film yang sama”
Sienta terpaku menatap kedua video artis dan aktor yang sedang naik daun dan banyak dibicarakan oleh media-media nasional. Banyak yang membicarakan keduanya—tentang kedekatan mereka, tentang mereka yang sering jalan bareng, kepergok sedang makan di sebuah restoran mahal di Jakarta, tentang gosip-gosip yang berhembus seputar mereka.
“Menurut kabar, keduanya sedang menjalin hubungan serius, bahkan mereka sering terlihat jalan bersama…” ujar narator sebuah infotaiment di stasiun TV swasta.
Sienta melihat beberapa slide foto-foto yang diambil oleh kamera amatir, menunjukkan Bintang dan Ghesa sedang berjalan bersama, duduk di café, mengobrol di belakang panggung sebelum acara talkshow.
“Gosip mulu, Bintang lagi Bintang lagi, enggak ada artis lain apa yang jadi bahan pembicaraan” ujar Sienta sambil mengemil keripik pisang.
“…entah apa yang ingin mereka tunjukkan! Apakah mereka sedang benar-benar dekat atau ini hanya suatu strategi promosi untuk film terbaru mereka?”
Sienta hanya bergeming sambil menonton acara infotaiment tersebut, enggak di sekolah enggak di TV, orang populer emang selalu jadi bahan pembicaraan—sesaat Sienta teringat Ryo dan Nuri.
Ryo dan Nuri—perfect couple, pasangan sepadan, entah istilah apalagi yang pantas untuk menggambarkan hubungan antara si tampan dan pintar Ryo dengan si model cantik Nuri, keduanya selalu menjadi bahan pembicaraan disekolah.
Siapa yang tidak ingin menjadi kekasih Ryo? wajahnya tampan, kulitnya putih, badannya atletis, selain itu Ryo selalu menjadi siswa teladan disekolah dengan nilai nyari sempurna. Beruntung juga bisa dicintai oleh cowok seperti Ryo. Lalu siapa yang tidak iri melihat Nuri yang cantik? badannya sempurna dengan bentuk seperti biola dengan lekukan yang sempurna.
Lalu bagaimana dengan dirinya? ia tidak seperti Nuri, ia juga tidak memiliki apapun untuk membuat seorang Ryo berpaling kepadanya.
Ah tentu saja itu hanya impian belaka jika ia masih menyimpan perasaan bodoh itu. Cinta? benarkah itu cinta? Sienta menganggap itu hanyalah rasa kagum. Bahkan kekagumannya kepada Ryo terlalu berlebihan hingga saat Ryo pun tega menertawakannya.
Dasar bodoh!, ujar Sienta dalam hati saat ia mengingat kejadian beberapa tahu yang lalu. Kejadian terbodoh, termemalukan, tersial, ternorak, ter- ter- ter- lainnya.
* * *
