Inginku.
Pulisher: Bukune
Dua
"Kamu satu-satunya cinta yang pernah kukenal"
Tidak sulit bagi Lea untuk beradaptasi. Ia diterima di tempat ini karena jam terbangnya yang tinggi dan skillnya juga sudah tidak diragukan lagi. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk mengetahui kinerjanya di sini. Setiap tempat memiliki cara dan ketentuan berbeda, tetapi Lea hanya perlu diberi sedikit pengarahan.
Lea direkomendasikan oleh seorang dokter yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan dirinya dulu. Oleh seorang dokter perempuan yang ramah dan menyenangkan. Dokter Lusi, begitu orang-orang di rumah sakit menyapanya. Di antara semua dokter di tempat kerjanya dulu, Lea sangat menyukai Dokter Lusi. Bagi Lea, Dokter Lusi berbeda dengan dokter kebanyakan. Itulah yang membuat banyak orang menyukainya. Ia tak pernah memberikan batasan. Ia selalu berbaur dengan penghuni rumah sakit lainnya—termasuk Lea, seorang perawat yang dikenal memiliki dedikasi yang tinggi terhadap profesinya.
Bukan sekadar janji yang pernah terucap saat itu, kini perawat sudah menjadi bagian dari hidupnya. Untung saja dulu ia kuat mempertahankan keinginannya. Berkali-kali dilarang, Lea tetap dengan pendiriannya untuk menjadi seorang perawat. Ia beruntung karena bisa mencicipi bangku kuliah dan lulus dengan predikat cumlaude.
Kini, sudah satu bulan Lea bekerja di rumah sakit swasta yang mewah ini. Sebuah rumah sakit dengan fasilitas lengkap, berstandar internasional, dan sedang proses akreditasi internasional, dengan dokter berkualitas dan staf yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap profesi mereka.
* * *
Bruk!
“Oh, maaf,” ucap seorang wanita saat berjalan keluar toilet dan tak sengaja menabrak Lea dari arah sebaliknya.
Lea tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Mbak.” Orang yang ditabrak menilik, memandang Lea, mengamati, dan mencoba mengingat-ingat.
“Kamu perawat baru ya di sini?” tanyanya yang sama sekali tidak mengenali wajah Lea.
Lea mengangguk.
Perempuan itu tertawa. “Pantas kamu nggak kenal sama saya.” Perempuan itu mengulurkan tangan. “Saya Vhera Adilla, anak pemilik rumah sakit ini, Bapak Dokter Yahya Udaya.”
Lea terpaku. “Oh.” Lea menyambut tangan sang anak direktur. “Maaf, Bu, saya….”
Vhera tersenyum datar sambil mengibaskan rambutnya. “Nggak apa-apa, santai aja. Nama kamu….” Matanya tertuju ke papan nama di dada sebelah kanan Lea.
“Aza—” Ia mencoba mengeja nama Lea.
“Azalea Daffanty,” ucap Lea, tersenyum tipis.
Vhera mengangguk. “Ah ya, nice…,” ucapnya lagi. “Oke, saya duluan ya.”
Lea mengangguk, melihat punggung sang anak direktur itu menjauh. Untung saja tadi ia tidak banyak bicara dan hampir salah tingkah saat tahu kalau perempuan yang menabraknya adalah anak direktur rumah sakit ini.
Lea bergegas, ia harus menemui Dokter Fandi. Dokter gemuk yang ramah itu mencarinya dan pasti ada sesuatu yang penting yang ingin ia diskusikan.
***
“Suster Lea mau ke mana?” Seseorang memanggilnya dari belakang.
Lea pun menoleh, melihat wajah dokter yang berbadan besar itu. “Eh, Dokter, saya baru mau ke ruangan Dokter, mau kasih berkas yang diminta,” sahutnya sambil menunjukkan map warna biru yang dibawanya.
Dokter Fandi mengangguk. “Mari bawa ke ruangan saya.” Lea berjalan mengikuti Dokter Fandi. Langkahnya terhenti saat dokter itu menyapa seseorang.
“Halo, Dok, kapan pulang dari Belanda?” tanya Dokter Fandi seraya menyalami orang itu.
Langkah Lea terhenti seketika. Mata Lea langsung tertarik kepada laki-laki yang baru saja bersalaman dengan Dokter Fandi. Tubuhnya membeku dan jantungnya seakan-akan berhenti.
Benarkah laki-laki itu—laki-laki dari masa lalunya? Tapi, ia tak yakin. Masa itu sudah lama berlalu dan sudah banyak yang berubah dari sekian tahun yang telah dilaluinya.
Lea bersembunyi di balik tubuh Dokter Fandi yang cukup lebar sampai bisa menyembunyikan tubuh mungilnya. Dan pada saat seperti ini, perut Lea seperti melilit dan diremas-remas. Mungkin, ia merasa kaget hingga perutnya semakin terasa perih.
“Dua hari lalu, Dok,” ucap laki-laki yang memiliki wajah rupawan dengan tulang rahang yang kuat, hidung mancung, bola mata hitam kecokelatan, dan alis yang lebat.
Dokter Fandi mengangguk. “Oh, ya, semoga proposal kita yang tempo hari bisa goal ya, Dok.”
Dia— Lea menelan ludah, tertegun kaget di tempatnya sambil menyentuh perutnya dan menahan sakit yang sering kali tiba-tiba muncul. Namun, rasa sakit itu bercampur aduk dengan apa yang ia lihat saat ini.
Benarkah dia? Ia menundukkan kepala, dan masih bersembunyi di balik tubuh Dokter Fandi sambil pura-pura membaca rekam medis salah satu pasien Dokter Fandi.
Pasti hanya seseorang yang mirip dengan sosok yang dulu dikenalnya, pikir Lea.
“Ya, semoga proposal kita diterima, sudah banyak teknik untuk uji DNA HPV sebagai pelengkap uji sitologi pap smear yang sudah kita lakukan.”
Dokter Fandi mengangguk. “Oh ya, sudah banyak pasien yang nanti akan kita teliti.” Ia menoleh ke arah Lea. “Sus, data rekam medic tadi mana?” tanya Dokter Fandi, berbalik mengulurkan tangan—meminta daftar nama dan data rekam medis pasien.
Deg!
Lea merasa tubuhnya berkeringat, tangannya lemas. Laki-laki itu ternyata bukan hanya bayang-bayang. Sosok itu masih ada di hadapannya. Napas Lea seperti terjepit di tenggorokan. “Ini, Dok.” Lea mengulurkan berkas-berkas yang dibawanya sambil menunduk, tak ingin memperlihatkan wajahnya.
Dokter Fandi memandang heran. “Ada apa, Sus?”
Lea menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa, Dok.”
Dokter Fandi mengambil berkas-berkasnya, lalu…. ”Oh ya, Sus, kenalkan ini— “
Lea gemetar, menyakinkan diri dalam hati. Tuhan….batin Lea. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang dan bisa mengendalikan diri.
“—Dokter Radhit Brahmantyo,” lanjut Dokter Fandi.
Wajah Lea semakin pucat. Jantungnya kini berdetak semakin kuat. Menarik napas panjang. Berusaha keras untuk tetap tenang meski ternyata laki-laki itu benar adalah orang yang dia pikir. Radhit Brahmantyo.
Lea menengadahkan kepala, memandang wajah Dokter Radhit, mengulurkan tangan, “Halo, Dok….” Diikuti seulas senyum ragu.
Laki-laki dengan jas dokter itu terpaku memandang sosok perempuan mungil yang sejak tadi berada di belakang Dokter Fandi. Sosok perempuan dengan pakaian putih selutut dan topi yang melekat di kepalanya.
Radhit merasa napasnya sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya membeku, dan matanya nanar. Ia melanjutkan pandangannya. Menilik teliti. Memandang warna bola mata Lea. Itu bola mata yang sama—hitam kecokelatan. Bukan itu saja yang ia lihat dari perempuan yang ada di hadapannya. Hidungnya yang mancung kecil, wajahnya yang bersih putih, bibirnya yang tipis merah, tubuhnya yang kecil mungil, dan rambut hitamnya yang tergelung dalam topi putih perawat—ia mengenalinya. Tapi, benarkan perempuan itu adalah dia?
Selama beberapa saat, mereka hanya berpandangan. Saling mengamati penampilan mereka yang sudah banyak berubah, lalu terucap kata, “Lea…?” tanya laki-laki itu ragu, menduga-duga.
* * *
