top of page

Happy With You. 

Publisher: Media Pressindo

 

 

~14~

 

 

~Sabtu, 19 Maret 2011~

 

 

Hari berganti hari, Gege dan Putri makin akrab, membuat Sienta tambah dongkol, kesal, dan panas. Belum juga ada cara jitu untuk membalas dendam, membuat Gege menyesal, dan tentu saja membuat Putri terbakar api cemburu lalu….mengeliat-geliat seperti cacing yang ditaburi garam.

 

Anyway…satu-satunya cara adalah menjadikan Bintang pacar! Itu yang diucapkan Ria, dengan alasan-alasannya yang kuat :

 

1.      Dulu Bintang dan Gege sempet deket banget, orang-orang bilang sahabat kental sejak SMP.

2.      Putri itu amat sangat menyukai Bintang dan pernah ditolak mentah-mentah oleh Bintang.

3.      Bintang itu cowok paling famous di sekolah, ganteng, pinter, berbakat, dan tentu saja idola cewek-cewek.

 

Tapi….dengan semua sifat Bintang yang bla bla bla….yang bisa dijabarkan dalam deretean urutan sifat-sifat panjang kertas HVS itu, rasanya ide untuk menjadikan Bintang sebagai pacar, sudah dipastikan kalau penolakan akan terjadi! Kalah sebelum berperang, jadi abu sebelum terbakar, atau apapun kata-kata yang cocok untuk menggambarkan sesuatu yang sia-sia.

 

So…ada cara lain untuk membalas tapi tidak menggunakan jasa Bintang? The answer is…NO! Terus gimana caranya biar berhasil? Anyone can tell me?, pikir Sienta, Haduh, masa gue harus ngomong sama dia sih? Ngomongnya gimana?, berjalan menuju cermin, menatap dirinya.

 

Sienta kemudian kembali mengingat percakapannya dengan Ria tempo hari,“Masa sih dia nggak mau bantu? Bukannya kalian temen kecil, ayolah…coba aja!”

 

“Arg!” menutup wajah dengan kedua tangannya, “kenapa sih gue itu sering keceplosan? Arg! Sebel sebel sebel….!!”

 

“Emangnya e’lo mau diem aja ngeliat si Gege sama si Putri?”

 

“Mau jadi cewek yang cuma nerima, mereka lagi ketawa-tawa lho di atas penderitaan e’lo”, kembali mengingat apa yang dikatakan sahabatnya.

 

“Ugh! Nggak! Gue nggak mau diem aja, pembalasan lebih kejam daripada fitnah” ucap Sienta dengan emosi yang meledak-ledak.

 

“Inget, Putri udah ngerebut cowok e’lo”

 

“Dia udah bikin e’lo menderita”

 

“Dia udah bikin e’lo malu”

 

* * *

 

Menatap serius wajahnya di cermin, ini adalah hal paling nekad dan gila yang akan Sienta lakukan, meski kemungkinannya tipis, a.k.a 99,9% kegagalan dan 0,01% adalah sebuah keberuntungan oh bukan tepatnya keajaiban.

 

“Hai Bin, e’lo…lagi sibuk nggak?” senyam senyum lalu cemberut, “Arg…” garuk-garuk kepala, “gue mesti ngomong apa?”

 

“Ah, nggak, gue nggak mau ngomong, dia pasti langsung nolak gue” menatap wajahnya yang mungil di cermin, “Haduh gue mesti ngomong apa dong? Gue pengen bales si Putri nyebelin itu!! Kalau bisa Gege balik lagi sama gue” manyun, menarik napas panjang.

 

‘Inget nta, sekali-kali cewek kayak Putri itu harus dikasih pelajaran, berapa kali dia ngerebut cowok orang? Dulu si Meyta juga cowoknya direbut, terus si Rossa, si Nadia, si Reyna, si Fina, dan cewek-cewek lainnya. Dia seneng banget ngerebut punya orang lain’

 

Menyisir rambut, “Iya juga sih, si Putri tuh emang kurang asem, seneng banget ngerebut cowok orang! Emang dia harus dikasih pelajaran!” ucap Sienta, DUG! Menyimpan sisir dengan penuh tenaga.

 

“Okey, lets rock! Gue harus latihan” ucap Sienta penuh keyakinan dan mulai menyusun rencana spektakuler dengan berbagai taktik yang akan dia gunakan untuk merubah kehidupannya yang menyebalkan menjadi lebih baik, membalas itu penting pikirnya!

 

Sambil menatap dirinya dicermin, Sienta berlatih berkali-kali menyusun kata-kata untuk meminta atau tepatnya memohon untuk membantunya. Bagaimanapun juga, dia tidak ikhlas dengan pelecehan hak azasi yang dilakukan Putri. Dia terlalu menyebalkan untuk ukuran cewek cantik, kalau aja sikapnya yang mines itu sama dengan wajahnya yang menawan mungkin dia tidak hanya di kagumi oleh para kaum adam tapi juga anak perempuan disekolah ini.

 

Siapa sih yang nggak mau punya cewek kayak Putri? Badannya mirip Aura Kasih ~ putih, mulus, menawan, dan seksi. Rambutnya hitam kayak Sandra Dewi, wajahnya agak blasteran mirip Rianti Cetwork.

 

Sienta heran saat Gege tiba-tiba meminta putus dan  lebih memilih Putri, padahal Sienta tahu benar siapa Gege. Dia tidak menyukai Putri karena dulu sahabat baiknya, Meyta, cowoknya direbut sama Putri. Kembali mengingat percapakannya dulu….

 

“Heran ada yah cewek kayak dia, nggak punya hati, ngerebut cowok orang!” oceh Gege saat mengobrol di kantin bersama Sienta.

 

Bingung, “Emangnya kenapa Ge?” tanya Sienta.

 

“Kamu tahu Meyta kan sayang?”

 

Sienta manggut-manggut, mengingat kalau cewek itu adalah sahabat dan teman baik Gege sejak kecil.

 

“Kemaren dia cerita, Putri ngerebut cowoknya”

 

Sienta menaikan sebelah alisnya, “Ah masa sih? Tega banget yah itu cewek” berpikir terlalu dalam, “aku jadi takut kamu juga berpaling sama cewek lain Ge” ucap Sienta spontan.

 

Menatap Sienta, tersenyum, “kamu ngomongnya ngaco aja deh” sambil mengacak-ngacak rambut Sienta.

 

Sienta manyun kayak anak kecil.

 

“Yah siapa tahu kan, aku nggak tahu. Siapa tahu nanti kamu tergiur sama Putri” ucap Sienta yang merasa resah dan cemburu.

 

Gerry tertawa lagi, “tergiur, kamu pikir makanan” menatap Sienta yang masih cemberut, “ah udah ah, jangan di omongin lagi”

 

Dan…sekarang semuanya sudah terjadi, kekhawatiran itu terjadi juga, ia ingin selalu mempercayai kekasihnya, tapi rasa takut itu terkadang muncul. 

 

“Argggg!!” menderu bête sambil garuk-garuk rambut, berjalan hilir mudik di depan pintu kamarnya.

 

Menatap pintu seolah pandangannya bisa menembus kamar Bintang, “gue mesti ngomong apa yah?”

 

“Ngomong…”

 

“Nggak…”

 

“Ngomong…”

 

“Nggak…”

 

“Ngomong…”

 

“Nggak…” ucapnya sambil menghitung jarinya, “Aduh gue mesti ngomong atau nggak yah? Arg! bikin pusing aja”

 

“Tarik napas panjang….”

 

“Keluarkan….”

 

“Tarik napas panjang….”

 

“Keluarkan….”

 

Gayanya persis orang hamil yang mau lahiran.

 

“Oke!” untuk mengubah sesuatu memang membutuhkan sesuatu yang bersifat sedikit radikal untuk menjalankan misi balas dendamnya.

 

KREEEEEKKKKKK

 

Menelan ludah, lalu melangkahkan kakinya.

 

“Huuuufffttt” menghembuskan napas, “calm…calm…cooling down nta…!!”

 

* * *

 

TOK…TOK…TOK…

 

Aduh kenapa gue deg-degan setengah mati gini

 

 TOK…TOK…TOK…

 

Bintang membuka pintu kamarnya, wajahnya yang segar muncul di depan pintu, seperti habis mandi, rambutnya masih basah, ada tetesan-tetesan air di kaos abu yang dipakainya.

 

“Ada apa?” tanya Bintang, sedikit terkejut saat melihat Sienta ada di depan kamarnya.

 

Nyengir kuda, “Hai Bin, ehehe sibuk nggak?” tanya Sienta, detak jantungnya berasa lari maraton, apalagi ketika Bintang tidak menjawab pertanyaannya, Sienta semakin salah tingkah.

 

“Anu Bin…” memulai percakapan.

 

Aduh kok gue bilang anu, kalau mikir aneh lagi, gimana coba

 

Kembali fokus pada ytujuan utama, “Gue tahu e’lo marah gara-gara masalah cake waktu itu” menatap Bintang, sorot matanya yang tajam bikin hati jadi ciut, “Euh, gue minta maaf yah…gue nggak sengaja, e’lo tahu sendirikan kalau orang kesandung jatuhnya ke depan bukan ke belakang, kalau ke belakang bukan ke sandung tapi ke peleset, jadi waktu itu gue…” melihat lagi wajah Bintang, “…gue nggak sengaja banget bikin baju kamu kotor sama cake itu” diam sesaat, melihat Bintang yang masih diam.

 

Aduh gue ngomong apa sih!, garuk-garuk.

 

“E’lo ngomong apa sih?” tanya Bintang sedikit tak mengerti.

 

‘Damn! tanggapannya dingin banget’ pikir Sienta, ‘emangnya dia nggak inget tragedi itu?’

 

“Euh gini, oke, gue to the point” menarik napas panjang lagi, e’lo kan sahabatnya Gege, euh dan e’lo sekarang tahu kalau Gege selingkuh sama Putri” melihat Bintang ragu dan takut.

 

Mengerutkan alis, “terus…” ucapnya dingin.

 

“Terus….euh, e’lo mau nggak jadi cowok gue?” tanya Sienta gamblang.

 

Mereka diam saling bertatapan.

 

“Apa?” tanya Bintang, terbengong mendengar kata-kata Sienta yang ajaib memintanya melakukan sesuatu!

 

Sienta langsung berkelit, “Euh, gue tahu e’lo banyak yang suka, tapi ini….” Melirik Bintang, “…tapi ini…cuma pura-pura kok, e’lo mau nggak jadi pacar pura-pura gue?” tanya Sienta penuh pengharapan.

 

Memandang Sienta, lalu menjawab….“Nggak!” tegas dan monohok.

 

Sienta kaget, “Apa?”

 

“Nggak mau!” seru Bintang mempertegas jawabannya, lalu menutup pintu kamar.

 

BRAAAAKKKKK

 

“Ih jahat banget lah dia…” 

 

* * *

Call

T: +6586511529

 

Contact

Email: cibe.cibi@gmail.com

WA: +6586511529

  • Instagram App Icon
  • Facebook App Icon
  • Twitter App Icon

Follow me

 

Personal website by Sienta Sasika Novel.

 

It is forbidden the use the pictures for commercial reasons.

bottom of page